Wahai Jiwa Manusia

November 3, 2006

Dan untuk engkau wahai jiwa manusia yang sedang terjebak oleh arena permainan semu dalam kehidupan, terpenjara oleh sempitnya pandangan mata dan dangkalnya pikiran, engkau yang telah membunuh imajinasinya dan tak mau menghidupkannya lagi; kebanggaan, kepuasaan serta kemunafikanmu akan menjadi arena pembunuh cahaya hidupmu. Netramu akan semakin rapat menutup hingga gelap dan terang tak dapat kamu rasa maupun lihat. Kau takkan pernah mampu memikirkan apa yang tak pernah kamu pikirkan, kau takkan pernah bisa dan berani berbuat atau menjalankan sesuatu yang tak pernah orang lain lakukan. Piciklah dia yang melihat hanya pada jalan yang ditapaknya dan dinding yang disandarinya.

Bebaskan dirimu dari penjara akibat ucapan dari bibirmu yang mengandung racun, bebaskan matamu dari batasan sempit pandanganmu akan hari ini, esok dan akan datang. Bebaskan hari-harimu dari kebiasaan menceritakan kekurangan orang lain untuk menjatuhkannya atau mengadu domba atau bermuka dua dan berkata dengan lidah bercabang.

Maka kau akan melihat sesuatu yang tak pernah engkau lihat dalam dunia lampaumu. Kau dapat berpikir tentang apa yang tak pernah atau belum kamu pikirkan. Temui teman dan objek observasi untuk memuaskan nafsumu selama ini dan, ulurkan tangan dengan ungkapan indah bak mutiara seraya ikhlas meminta pintu maaf mereka. Dan kau, teman kau, dan siapapun akan mengerti bahwa dari dua harta kehidupan, yakni keindahan dan kebenaran, yang pertama akan kalian temukan dalam hati yang mencinta dan yang kedua dalam tangan seorang pekerja. Sebuah saran untukmu wahai engkau yang sedang terpenjara oleh kebebasan, jangan melihat hari esok dari memori hari ini melainkan melihat hari esok dengan memori hari esok.

Sebagai manusia dewasa seperti tentunya tidak mudah untuk melihat tanpa mengkerangkakan terlebih dahulu. Sebab, setiap netra dan kepala orang dewasa sudah penuh dengan kerangka dan kriteria. Namun, sesulit dan sesukar apapun, ia tetap bisa diusahakan dan dipelajari. Anda bebas memilih cara Anda sendiri. Seperti saran seorang bijak seperti J.Krisnamurti, Kahlil Gibran, M Gandhi, Rhenald Khasali, AA Gym, maupun Gede Prana dalam artikelnya menyarankan kita melakukannya dengan cara mengurangi menggunakan kata seharusnya, seyogyanya, idealnya, dan kata-kata sejenis. Karena setiap kali kata-kata seperti itu datang, atau spirit yang sama berkunjung, saya usahakan untuk menetralisirnya dengan spirit : dia adalah dia, saya adalah saya.

Hari ini adalah hari ini, hari kemaren adalah hari kemaren. Rumah adalah rumah, kantor adalah kantor. Belum sempurna memang, karena saya masih menyandang status sebagai manusia biasa. Namun, ada lebih banyak senyuman yang muncul dari sang hidup, ketika saya sudah mulai sedikit bisa melihat. Menyelam hanyalah menyelam. Melihat hanyalah melihat. Ini yang disebut oleh Steve Hagen dengan the journey into now.

Perjalanan menyelami hari ini di sini, di tempat ini, dan di waktu ini. Perjalanan meninggalkan kebiasaan mencela, mencari muka, merasa paling benar, pintar dan berjasa tak semudah melepas burung dari perangkap laba-laba. Jika ada yang berhasil atau gagal, maka senyum merupakan wajah tunggal sang hidup atau sebaliknya, ketika engkau tetap asyik dengan kebiasaan memenjarakan jiwamu, maka cahaya sang hidup akan redup dan padam menuju hari esok atau hari depan yang tak lain hanya berisi sebuah bayang-bayang semu saja.

Maka marilah kita tidak usah memilih-milih dan mengkotak-kotakkan, karena kita berada di bumi yang sama. Kau buta dan aku tuli dan bisu, maka marilah bersentuh tangan dan mengerti.

Entry Filed under: Uncategorized. .



Leave a comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Archives