Untukmu INDONESIA-ku
September 20, 2006
Tumbuh artinya bertunas, demikian pula dengan pergerakan kerakyatan, maupun pergerakan politik. Hal sedemikian bukanlah hal yang lazim dalam dunia pergerakan maupun dunia politik, terlebih di Indonesia saat sekarang. Banyak tunas tumbuh dalam dunia politik praktis yang terlihat mencolok di hari hari ini, adalah hasil dari kaderisasi partai, penggemblengan ideologi orang-seorang, adalah hasil dari pemampatan dogma dan politik identifikasi sepihak yang ditanamkan tanpa ataupun dengan sadar dengan perimbangan bagi hasil. Sebuah oportunisme yang kentara.
Menyedihkan menyadari bahwa masih ada kelompok bangsa ini yang mencoba melahirkan sosok pemimpin, terlebih kita semua pastilah paham akan sejumput kalimat besar bermakna bahwa "pemimpin sejati tidak pernah dapat dibentuk, karena ia dilahirkan oleh keadaan".
* * * *
Mungkin tidak terlalu berlebih untuk menyebutkan bahwa seorang Soekarno muda, telah lepas jauh dan menyimpang dari ajaran awal dan kaderisasi inisial dari seorang HOS Tjokro, karena selepasnya sosok pemuda itu dari kandang Syarikat Islam, ia pun berasimilasi, bertukar pandangan, memilin pemikiran dengan lainnya, dan bahkan memperkaya pemikirannya dengan banyak unsur unsur lain dalam pergerakan Indonesia bibit pada saat itu, katakanlah perhubungannya dengan tokoh pergerakan sosialis, dengan seorang Hatta yang berfaham sosialis demokrat, yang hendak memakmurkan bangsa terlebih dahulu sebelum merdeka, bahkan pula dengan pergaulannya dengan profesor profesor negeri Belanda yang saat itu membimbingnya dalam perkuliahannya di THS Bandung. Seorang Soekarno muda telah jauh menimbang ulang kajian awal kepartaian dan konsep tata negara ala Syariat Islam di masa kanaknya, ia telah tumbuh dewasa dengan pergulatan ideologi. Namun ia bukanlah seorang ideologist yang introvert, justru sebaliknya ia membuka isi kepala dan perasaannya untuk mampu menjembatani kemana sebenarnya semua pemahaman itu bermuara. Ia menjadi orang yang kaya.
Pula pengasingannya ke beberapa tempat ditanah air, telah membuat Soekarno menjadi anak kandung sebuah bangsa yang rumit dalam merunut asal, ia menjadi seorang asimilator tulen, penyelam makna kebudayaan yang sempurna, penghirup arti udara bebas yang dimaknai
Indonesische, seorang pemaham arti kebhinnekaan yang tak tergoyahkan. I n t r I n s I k.
Pasca indoktrinasi HOS dan Syarikat Islam serta corak latar keberadaannya secara geografis di pelosok nusantara, Soekarno menjadi seorang yang jauh lebih besar hampir tak tergoyahkan
argumentasinya akan makna sebuah Indonesia adalah suatu kesatuan yang tak boleh terpisahkan, kemampuannya memaknai arti filosofis dari sistem geopolitik telah membuat ia menjadi seseorang yang benar benar fasih dalam melafalkan makna "bangsa" menjadi kata "negara", orang yang dengan sepenuh hati mewujudkan sebuah "Sabang hingga Merauke" menjadi "Indonesia", dan untuk selanjutnya, k e l a k , dari sebuah " Indonesia " menjadi sesosok "Fajar di Timur Asia".
* * * *
Perubahan besar dapat dimulai dari berfikir secara besar pula, yaitu cara berpikir yang senantiasa mengikutsertakan seluruh komponen secara massal, dan umumnya mengambil bentuk akhir perubahan yang revolutif Sistem politik di dunia, terutama negara negara dengan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang melimpah, sebagian besar umumnya menempuh awal perjalanan mereka sebagai sebuah negara yang berdaulat dan bertumbuh besar dengan cara
yang pertama, yaitu dengan cara r e v o l u t i f.
Entah apa yang melatarbelakangi hal ini, bagi sebagian kaum berkuasa yang hari hari ini memegang kendali tampuk kekuasaan pemerintahan di negara negara tersebut, kata satu ini, kata revolusi ( revolutif ) adalah kata yang berkonotasi negatif, sebuah kata yang sering dianggap sebagai pemicu potensi konflik yang luarbiasa, sebagai satu kata yang berpotensi pemusnah bangsa. a word which could means one nation destruction
Akan tetapi, intisari dari tulisan ini, izinkan kami memutarbalikkan cara pandang kita semua selama ini, bahwa kemampuan berpikir revolutif ini sesungguhnyalah adalah sebuah potensi yang berdampak besar, sebuah anugerah pada orang seorang yang dapat membawa perubahan yang fenomenal, berdampak luas, dan tanpa reaksi balik.
Kemampuan berfikir revolutif bagi individu bangsa Indonesia, adalah merupakan berkah, instead of a shame, berfikir revolutif adalah sebuah kemampuan melihat permasalahan dalam kerangka massal, kemampuan menyatukan permasalahan, kemampuan sinkronsisasi.
Dapatlah dimisalkan ia adalah suatu proses papuanisasi- nya Indonesia…sebuah proses Balinisasi-nya Nusantara.. dan lain lain pula…sebuah proses yang akan memperkaya Indonesia dengan Indonesia itu sendiri…sebuah proses enrichment, memperkaya dan memperluas jati diri, bukan malah menyempitkan identitas. Semestinyalah pula kemampuan ini didayagunakan untuk menghantarkan setiap suku di Nusantara menjadi pemain utama pada pentas bernama Indonesia. Dan pula , k e l a k , akan menjadi sebuah proses yang akan me-nusantara- kan seluruh Asia Tenggara, bahkan Asia, sebagaimana cita cita Soekarno membawa Indonesia sebagai " Fajar di Timur Asia "
Kemampuan meninjau permasalahan satu bangsa dengan kerangka yang lebih besar, juga kemampuan sinkronisasi geopolitik, merupakan sebuah kemampuan berpikir yang anti orang-seorang, tak lain tak bukan karena kemampuan ini, haruslah dimiliki sebadan, dimiliki
secara intrinsik, melainkan pula ia harus dilandasi sebuah pemahaman dan pengalaman empiris dari individu tersebut akan k e m a s s a l a n dari k e b h i n n e k a a n daripada bangsa itu sendiri.
* * * *
Kemampuan berfikir revolutif, dengan cara pandang yang santun, adalah merupakan daya bangun perorangan yang senilai berpuluh lipat kekuatan mesin mesin raksasa, suatu kesatuan semangat juang. Suatu Identitas kepribadian yang lebih jauh akan menjelma menjadi satu entitas politik , yang sekali lagi, entah mengapa, dengan segala kemusykilan, haqqul yaqin kami menyimpulkan, bahwa kemampuan ini hanya dimiliki oleh individu individu dari suku bangsa maupun negara
dengan modal awal berbangsa ber-sumberdaya melimpah.
Inilah semestinya ruh daripada perjuangan P o l i t i k I d e n t i t a s… Ketimbang berpawai di jalan jalan utama membawa bendera partai, menempeli setiap orang kecil dengan rompi dan jaket, ruh seperti inilah sebenarnya yang patut dijadikan cetak biru dari pengembangan karakter kebangsaan. Pula elok diterapkan pada sistem kepartaian maupun sistem pergerakan, Inilah sebenarnya merah darah seorang pejuang politik yang tauladan. Ia haruslah orang yang sarat dengan kebhinnekaan, ia yang atas nama rakyat pada setiap derap langkahnya. Ia yang telah menapaki seluruh nusantara dengan jejak kakinya sendiri, bukan menjelajahinya dengan buku sejarah bangsa belaka.
* * * *
Sebuah Bangsa yang besar, terberkahi oleh sumber daya yang besar, yang dengan sejatinya terbekahi oleh kemampuan berfikir revolutif, berfikir massal, thinking big, tentulah sebuah bangsa yang seharusnya memiliki orang orang dengan karakter kepribadian yang distinctive, easy to find, mudah ditemukan, bertebaran dimana-mana.
Yang menjadi tanda tanya besar adalah, kalaulah konsepsi itu sah adanya, bahwa benarlah Indonesia telah kita sepakati adalah sebuah negara yang besar, dengan karakter yang besar pula, maka dimana hadirnya kelak orang orang tersebut?
Yang telah berlalu tak cukup dihitung dengan jari, tetapi yang menjadi pertanyaan, dimana kelak lahirnya orang orang berpemikiran besar itu hari ini dan kelak? Siapa yang meneruskan jati diri dan kharisma nusantara ini? Apa pasal tunas tak bertumbuh? Mana Soekarno Soekarno muda? Dimana pula singgahnya Hatta Hatta belia ? Ataukah sesungguhnya kita yang tak arif membaca persoalan, tak lazim memaham arah tumbuh kecambah? Mungkinkah kita mencari ditempat yang salah?
Sering terdengar raungan jerit sakit sumbang dari seluruh pelosok negeri, apakah itu pertanda orang orang besar itu sedang diambang kelahiran ? Bangsa ini tidak menunggu untuk punah, Bangsa ini pula terlalu besar dan jaya untuk berdiam diri. Percayalah, tunas pemimpin besar tak akan ada dalam kaderisasi, pemimpin besar ada dan lahir dikarenakan keadaan, ia tidaklah pernah dapat dibentuk. utarakanlah peta kita.
* * * *
Dengan jelas kita ketahui bersama, berbagai upaya revolutif artifisial diseluruh dunia pernah diuji cobakan untuk melakukan perubahan besar satu negara melalui dukungan rekayasa ekonomi,
rekayasa politik, musuh imajiner, bahkan musuh publik rekaan dengan memberikan dukungan tertutup kepada satuan militer, tetapi tetap tidak akan pernah dapat menyaingi tumbuhnya tunas tunas muda, yang berurat-akar, tunas muda yang bertautan-sulur satu sama lain, membentuk kesamaan pola tumbuh, kesamaan zat hara juga pula kesamaan arah gerak.
Bukanlah hal yang kebetulan, memudarnya era pemimpin pemimpin besar revolutif di dunia pasca perang dingin Soviet dan AS, juga telah memudarkan sosok dan arah perjuangan . Perjuangan politik hari hari ini tak lagi melibatkan jiwa tulus membuncah massal, melainkan perjuangan yang sarat akan modal, meluber tumpah dituangi kepentingan investasi. Ini adalah salah satu tanda bergesernya tempat bernaung dan berkecambahnya tunas tunas muda yang kita cari selama ini. Tak perlu melihat diri sendiri, roman politik di Asia Tenggara sekarang pun bukan lagi lagi roman politik yang romantis, yang dipenuhi buku dan darah pemuda, yang dipenuhi janji suci akan sang saka. Hari hari ini, pemuda dalam politik adalah mereka yang berdasi, berminyak wangi semerbak bunga, dan tentu saja pemanut seribu dogma. asallah kenyang, itu pameo zaman kini.
Lantas, mengapa ibu gundah gulana mencari? Mengapa pula ibu serupa bingung mata tak bertaut? Mungkinkah ibu yang salah tempat mencari? Mungkinkah tempat sauh sudah berpindah terbawa karang? Wahai Ibu, jangan menangis, karena kami akan datang menjemput ibunda…Kami akan maju bersatu langkah serupa anak muda berdarah panas siap menghentak. Karena kami telah merasakan arti kebhinnekaan… kami telah menghirup aroma sejuk seluruh puncak puncak tertinggi di bumi nusantara….dan kami telah bertunas! Tak lama lagi kami akan tampil menyeruak.
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed