Perang…perang…perang (II)
August 13, 2006
Amerika Serikat, Inggris, Israel, dan negara-negara pengusung kebebasan
liberalisme pasar; dalam abad millenium ini telah menunjukkan praksis
yang cukup kotor dengan membunuh rasionalitas kemanusiaan paling tragis
setelah abad hegemonitas monarki dijatuhkan. Suatu istilah: “pelacuran
antara senjata dan demokrasi”, telah mendapatkan tempatnya setelah masa
perang dunia II usai dan runtuhnya blok rejim komunis di Eropa Timur.
Ketika senjata dan kepentingan basis penguasaan global adalah laras
terdepan untuk membangun sebuah kebebasan.
Beberapa pandangan paling konyol dengan menganalisis suatu kontradiksi
antar kelompok kepentingan menuju kebebasan atau praksis kebebasan
menuju suatu kepentingan (dalam realitas ini tentang serangan ambisius
Israel), selalu dikaitkan terlalu telanjang dengan persoalan suatu
kepercayaan ataupun nilai-nilai transendental yang dianut oleh sebagian
komunitas masyarakat global. Ternyata telah mendapatkan porsinya
sebagai alat stimulus terbaik untuk membangun suatu solidaritas bersama
(kesemuan), hanya berdasarkan suatu keabsurditasan proses berpikir.
Mereka selalu menafikkan kontradiksi ideologis dalam realitas
peperangan ini, atau mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai
basis utama untuk melakukan suatu analisis terbaiknya. Yang ditawarkan
adalah suatu pola berpikir dan cara pandang yang berbasis
sentimen-kronis (antar faksi kepercayaan dan ras) untuk praksis
penguasaan global atau perlawanan global.
Amerika Serikat dan beberapa sekutunya telah mempraksiskan suatu
pandangan sentimen-kronis kepada masyarakat global, berpraksis
insidentil dengan melakukan pengidentifikasian teroris sebagai alat
tekanan (secara tidak langsung) kepada suatu ras dan beberapa faksi
kepercayaan. Secara halus mereka telah mempraksiskan suatu rasisme
terbuka kepada orang-orang Arab dan Asia Tengah, walaupun pada
hakikatnya hanyalah suatu kepentingan kapitalistik dan penguasaan
sumber daya alam. Beberapa praksis manipulistik, propaganda hipokrit,
dan kelicikan jargon demokrasi yang tengah ditawarkan; seakan-akan
mereka telah memperlakukan orang-orang Arab dan Asia Tengah secara
lebih baik, ketimbang mereka memperlakukan warga negaranya.
Pengajuan beberapa ide yang telah didistorsi kebenarannya, seperti:
toleransi, demokrasi, kebebasan, dan hak-hak asasi manusia; atau
seperti konsepsi Tony Blair yang cukup dramatis absurd: “benturan
mengenai peradaban” atau “pembangunan pemahaman antara Islam dan
Barat”; hanyalah suatu model absurditas berpikir yang terus
dijustifikasi kebenarannya, dengan memisahkan substansi kepentingan
untuk suatu kemanusiaan dengan manusia yang telah mengalami reposisi
sebagai objek dari kepentingan imperialisme global. Dengan landasan
teoritis ini, tentunya dapat diperdebatkan dalam praksis-praksis
“perlawanan” yang dapat ditolerir oleh kejelasan basis ideologis, bukan
dengan suatu sentimen-kronis seperti yang dilakukan oleh Amerika
Serikat dan sekutunya. Ataupun yang dipraksiskan sebaliknya oleh
beberapa faksi perlawanan lainnya.
Brutalitas kepada batas kedaulatan antar negara atau solidaritas global
dengan memarjinalisasi nilai-nilai kemanusiaan, adalah dua sisi mata
uang yang memiliki kesamaan karakteristik: proses dehumanisasi! Mungkin
juga kepada sebagian komunitas intelektual di negara maju dan
berkembang penganut teori Weber dalam mematerialkan suatu relasi
manusia - negara - internasional, tentunya secara malu-malu mereka akan
mengakui; bahwasanya ide adalah landasan utama dalam merasionalisasikan
nilai-nilai kemanusiaan.
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed