Perang…perang…perang (I)
August 13, 2006
“…ketika kebebasan dan senjata telah dipersatukan nilainya untuk menghancurkan kebebasan lainnya”
Sekali lagi, dunia disuguhkan oleh suatu peperangan ambisius. Tentang
Israel dan negara-negara kawasan di Timur tengah. Ya, tentang Palestina
dan Lebanon, suatu perang yang disuguhkan dalam sejarah perkembangan
masyarakat dunia, perang yang diilhami oleh kaum radikal pengusung
pos-modernis, perang yang memanipulasi esensi nilai-nilai dalam relasi
manusia dan kehidupannya di bawah kekuatan senjata, dan perang yang
di-amini oleh negara-negara imperium global. Perang yang bukanlah
dilandaskan oleh suatu konflik agama atau kepercayaan, tetapi ini
adalah peperangan ideologis yang tengah diperankan oleh Israel di
kawasan sekitarnya.
Israel kini membabi buta dan kembali menyuguhkan keliarannya, sama
halnya dengan apa yang dilakukan oleh negara-negara imperium lainnya
dalam memperlakukan manusia dan kehidupannya di negara-negara kawasan.
Suatu kebejatan yang dimotori oleh kaum psikopat ideologis dan kaum
tekno-demokratik liberal, dengan memaksimalisasi daya perusaknya di era
modernitas untuk perluasan hegemoni dan pasar. Membangun suatu
peradaban dan tatanan global dengan membunuh kemanusiaan manusia (tidak
hanya manusia semata), dan mensubstitusikan secara sempurna antara
nilai kemanusiaan dengan realita pasar dan dominasi!
Perang bukanlah bertujuan untuk sekadar memberangus manusia dari
kehidupannya, atau sekadar untuk suatu penghancuran terhadap beberapa
unsur nilai dan ide kehidupan yang dianggap kontradiktif, tetapi
hanyalah suatu alat—yang tetap dianggap efektif—untuk mengatur manusia
dan kehidupannya di bawah hukum-hukum yang dipaksakan (walau oleh
kebebasan itu sendiri). Tentunya, ketika kebebasan dan senjata telah
dipersatukan nilainya untuk menghancurkan kebebasan lainnya, dan
membangun suatu peradaban manusia di bawah hukum yang mengatasnamakan
“kebebasan”.
Jika kita menarik suatu hubungan antara kebebasan dan hal-hal yang
“telah mengikat” kebebasan menjadi alat penguasaan, maka realita
tentang kebebasan belum menemukan paradigma terbaiknya dalam sejarah
perkembangan masyarakat dunia, atau mungkin hal tersebut telah
memperoleh anggapan sebagai suatu keharusan sejarah? Lalu, ketika suatu
keharusan sejarah yang saat ini tengah berpraksis oleh beberapa
komunitas masyarakat global (terutama dari sudut ide dan pergulatan
kepentingannya), ternyata apa yang selalu diteriakkan sebagai tuntutan
untuk kebebasan, pada akhirnya harus “dieksploitasi secara vulgar”.
Proses pengeksploitasian inilah merupakan akar dari konflik menuju
kebebasan, walaupun kebebasan itu telah mengalami pencemaran terhadap
nilai-nilai kehidupannya.
Walaupun proses pendefinisian arti dari kebebasan tak akan pernah luput
oleh kepentingan beberapa praksis basis ideologi, demikianlah dengan
penafsiran tentang nilai-nilai suatu kebebasan. Pada akhirnya, proses
penekanan dan pemaksaan secara radikal selalu terjadi kepada hampir
semua negara antar seluruh kawasan, terutama negara-negara di dunia
ketiga. Dalam hal ini dapatlah kita menilai dengan lebih kritis kepada
kaum tekno-demokratik liberal, pengusung modernitas, dan kepada kaum
filsuf-teologis yang dibiayai oleh imperium global; tentang suatu
kemunafikan dan ketidak-konsistenan proses berpikir dan landasan
teoritis mereka. Sehingga yang selalu disebut-sebut sebagai kebebasan,
tak ubahnya sebagai “amunisi paling efektif di ujung laras senjata”
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed