Tuhan di Kamar Mandi

June 25, 2006

Sesungguhnya memohon dan bersyukur yang melibatkan Tuhan itu adalah
karena manusia memang membutuhkan Tuhan jua. Tuhan ada karena ia
diciptakan oleh manusia, dan manusia tak mungkin menciptakan Tuhan jika
tidak membutuhkannya.

Kebutuhan selalu berubah, sejalan dengan perubahan hidup manusia itu
sendiri. Beberapa tahun ke belakang, sebuah pager sangatlah dibutuhkan
oleh manusia yang berbisnis. Namun sekarang, dengan membanjirnya
berbagai tipe handphone yang bisa ber-sms, masihkah manusia membutuhkan
pager tersebut? Kita sudah lama membuangnya. Karena sms jauh lebih
praktis dan jauh lebih efektif daripada lewat pager.

Pada suatu waktu, kita menciptakan Tuhan karena kita membutuhkannya
sebagai tempat mengadu, sebagai sesuatu yang disembah, dan juga sebagai
tempat bersyukur dan berterima kasih.

Namun demikian, sejalan dengan perubahan dan kemajuan hidup manusia,
beberapa manusia tidak lagi membutuhkan Tuhan tersebut. Tuhan
digantikan oleh berbagai lembaga konseling sebagai tempat mengadu,
Tuhan digantikan oleh pekerjaan, wanita cantik, anjing lucu, dan
fotografi sebagai sesuatu yang ‘disembah’. Dan acara syukuran pun dapat
dilakukan tanpa melibatkan Tuhan. Jika anda mengundang tetangga untuk
syukuran atas kelahiran putra/putri Anda, Tuhan sama sekali tidak perlu
diundang dan tiada yang kan bertanya.

Di lain pihak, beberapa manusia masih menganggap Tuhan itu dibutuhkan, termasuk saya.

Sebenarnya tidak ada masalah jika masalah Tuhan-menuhan ini tetap dalam
kerangka urusan yang sangat pribadi, sepribadi urusan di kamar mandi.
Jika Anda menganggap bahwa sebuah bak air dengan penciduk air adalah
bagian sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh sebuah kamar mandi, silahkan
saja terapkan pada kamar mandi Anda sendiri. Namun orang-orang selain
Anda bisa berpendapat bahwa ciduk dan bak air itu tidak lagi mereka
butuhkan, dan mereka membongkar dan membuangnya untuk diganti dengan
shower yang bisa mengalirkan air panas atau dingin - tinggal pilih -
maupun diganti dengan sebuah bathtub dimana kita bisa berendam di
dalamnya sambil memejamkan mata dan mendengarkan musik.

Bagi saya, saat-saat mandi adalah saat yang paling indah dan sangat
pribadi. Teman saya menaruh sebuah stereo set dalam kamar mandinya,
sebuah pesawat televisi dan sebuah lukisan kesukaannya. Mungkin
rekan-rekan yang mandi dengan guyar-guyur akan menganggap dia bodoh dan
mandi dengan cara yang bodoh. Namun itu adalah hak dia. Bagi saya,
justru mereka menganggap dia bodoh adalah yang bodoh dan tak tau arti
kenyamanan.

Masalah butuh dan tidak butuh ini seyogyanya tetaplah jadi urusan pribadi. Tidak terkecuali urusan Tuhan menuhan tadi itu.

Namun sayangnya, atau lebih tepat lagi: tragisnya, orang-orang yang
menganggap masih butuh Tuhan tadi itu suka memaksakan kehendaknya
kepada orang lain. Mereka tidak suka orang lain menyembah Tuhan yang
tidak mereka sembah, dan benci jika seseorang sudah membuang Tuhan dari
kamar mandinya atau kehidupannya.

Dan sampai hari ini, orang-orang tersebut masih bertindak brutal,
biadab, dan mahakejam untuk memaksakan pendapatnya bahwa Tuhan masih
dibutuhkan tersebut.

Dan Tuhan yang dibutuhkan itu mestilah Tuhan mereka pula, bukan Tuhan
yang lain. Orang-orang semacam inilah yang seharusnya dibasmi dari muka
bumi ini. Bukan orang-orang yang mereka serang secara brutal dan ganas
sepanjang tahun.

Entry Filed under: Uncategorized. .



Leave a comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Archives