Dengarlah Aku
June 17, 2006
Wahai perempuan, dengarkanlah aku!
sebelumnya aku bebas bagaikan burung
menjelajahi lembah-lembah serta hutan-hutan,
dan terbang di langit luas.
menjelang malam aku beristirahat
di dahan-dahan pohon,
merenungkan bait- bait serta
istana-istana di kota awan
yang berwarna-warni
yang dibangun oleh mentari di pagi hari
dan dihancurkan menjelang senja.
sebelumnya aku seperti pikiran,
berjalan sendirian dan berdamai dengan timur
maupun barat alam semesta,
bersuka cita dengan keindahan
dan suka cita kehidupan,
dan menyelidiki misteri
keberadaan yang luar biasa.
sebelumnya aku seperti mimpi,
mencuri di balik sayap-sayap ramah malam,
masuk lewat jendela-jendela tertutup
kedalam kamar-kamar para gadis,
menggoda serta membangkitkan
harapan mereka……
lalu engkau menangkap khayalanku,
dan semenjak saat yang menghipnotisku itu
aku merasa seperti tawanan
yang menyeret belenggunya
dan terdorong ke dalam tempat yang tidak kukenal…
aku menjadi mabuk dengan anggurmu yang manis
yang telah mencuri kehendak,
dan sekarang kutemukan bibirku mengecup tangan
yang memukulku dengan keras.
Tidak dapatkah aku untuk mencintaimu ???.
kebebasanku telah dipulihkan,
maukah engkau sekarang menemaniku
sebagai sahabat yang terkasih,
yang rela memandang matahari
dengan wajah yang bersinar-sinar,
dan mencengkeram api dengan jari-jari yang tidak gemetar?
maukah engkau menemani seorang pemuda
yang menghabiskan hari-harinya
menjelajahi pegunungan seperti rajawali tunggal
dan menyia-nyiakan malamnya
mengembara di padang gurun
seperti singa yang gelisah ?
maukah kau mencukupkan dirimu denggan kasih sayangku
yang memandang kasih hanya sebagai penghibur,
dan tidak mau menerimanya sebagai tuannya.
maukah kau menerima hati yang mengasihi ,
tetapi tidak pernah berserah?
membakar tapi tidak meluluhkan?
akankah engkau tenteram
dengan jiwa yang bergetar di hadapan badai,
tetapi tidak pernah menyerah di hadapannya?
maukah engkau menerimaku sebagai kekasih
dan terkasih yang tidak memperbudak
maupun mau diperbudak?
memilikiku tapi tidak menguasaiku,
dengan mengambil hatiku,
tapi tidak tubuhku?
kalau kau mau ….
inilah tanganku
peganglah dengan tanganmu yang indah,
dan inilah tubuhku,
rangkullah dia dengan lenganmu yang penuh kasih ;
dan inilah bibirku,
kecuplah dengan kecupan
yang dalam serta memabukkan.
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed