Untitled

April 9, 2006

Rangkaian awan hitam
untaian bintang redup
menghiasi perjalanan cinta
matahari dan bulan…

Wahai bulan..
apakah artiku tanpa senyum mu
Kubiaskan cahayaku pada jagad raya
serukan “aku adalah engkau”
“dan engkau adalah aku”
biarkan cinta kita menyejukkan rasa semesta

Niscaya cinta itu menghangatkan
bunga pepohonan dan gunung
jangan biarkan awan kelam
menghalangi kita…

Saat aku letih bersinar…
senyumlah padaku…
agar deritaku menjauh
tuntun aku dalam genggaman hatimu
wahai sang dewi…

Raut wajah keindahan
menerpa laksana embun kesucian
Membungkus makna hadirku bagimu
rasuki rohku dengan untaian makna cinta
selami jiwaku temukan permata hati…

Maka mengertilah engkau
mengapa takdirku dipenuhi bencana…

Aku menjerit dalam keindahan
yang begitu menjelita
kurangkul sedih kesedihan
menjadi kebahagiaan..
selembut pelita abadi
membasahi naluri cintaku

Tanya ku membekas
hingga menjadi jawaban

Aku datang padamu saat itu
dengan membawa sejuta makna kasih
yang memerah bila tersapu kelam

Kau tak hanya elok
bilamana senyum mu yang menguntai
membasahi padang yang kering
tapi disaat kau pun menjerit
dalam sutra yang lembut bening
masih tersimpan ayumu melepas perih

Duhai dewi..
dapatkah aku terus memelukmu
karena aku tak sangup melepas rasa
dimana aku rasakan
puncak bestari cahaya kemilau

Kubaringkan kau dalam hatiku
yang begitu jauh dalam
melebihi antara bulan dan matahari

Hai keindahan senja yang keemasan…
ingin kurasuki jiwamu
hingga kita jauh begitu dekat
sang pengelana malam
yang memancarkan pantulan titik semesta
ingin kuhadiahi kau pengadilnya
setiap detak jantung dan nafasku
kupanggil namamu hingga…
tiada waktu pada suatu hari itu

Entry Filed under: Uncategorized. .



Leave a comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Recent Posts

Archives