Wahai Embun Pagiku…
March 16, 2006
Sekarang jam menunjukkan jam dua belas siang,dimana kehidupan masih di ributkan oleh hiruk pikuknya dunia. Tapi aku disini hanyalah kesepian yang terasa. Tiada terdengar olehku suara-suara yang mengganggu,hanyalah nyanyian tangisan yang kudengarkan dengan detak jantungku yang bergemuruh. Sedih dan airmata yang terus bercampur. Aku sering bertanya kepada diriku,sebenarnya salah apa yang telah kuperbuat hingga cobaan terus selalu menghampiriku, …maafkan aku telah cengeng begini…seharusnya aku tidak boleh bertanya begini…
Embun Pagiku…disini aku selalu diselimuti oleh kelabu,hari-hariku ditandai dengan air mata. Terkadang aku begitu takut,apabila kutatap matanya seperti akan menerkam aku. Disini aku jadi bisu,aku takut mengeluarkan kata-kata. Seakan-akan dia akan menikamku dari belakang…aku begitu takut……….
Embun Pagiku…apabila malam datang , aku akan diselimuti oleh kedinginan hati. Dimana wajahku yang riang sudah tak ada lagi…keceriaanku yang dulu sekarang sudah sirna…
Embun Pagiku…bagaimana dengan hari-hari yang kau lalui? semoga engkau di selimuti oleh kehangatan cinta, jangan pernah engkau bersedih…selalu hangatlah seperti bunga mawar putih yang selalu tersenyum
Embun Pagiku …aku disini bagaikan seekor burung dalam sangkar,tetapi bukan terbuat dari emas,tetapi hanyalah sangkar biasa. Disini aku sangat memilukan…
Embun Pagiku…aku bagaikan pohon yang sudah tua ,sendiri ditengah ilalang tanpa dedaunan. Tetapi itu semua kucoba telan sendiri aku masih sombong. Aku tidak membiarkan orang melihat kedunia kecilku.Biarlah kutelan semua ini…
Embun Pagiku…pernahkah kau merasakan detak kegetiran hatiku? pabila bisa, tolong rasakan walau hanya sedetik.
Terima kasih Embun Pagiku…
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed