Cerita Sebuah Puisi
January 13, 2006
Para pujangga menulisku kedalam kertas, terserap oleh tinta. mereka menyerahkan hati mereka pada untaian kata-kata, seolah kata-kata itu berdampak baik bagi mereka, seolah masalah dapat selesai hanya dengan untaian kata-kata terselip yang mengandung makna yang tercetak pada selembar kertas. Pujangga adalah mereka dengan hati rapuh, mudah jatuh, mudah terluka, mudah mencintai. Pujangga tidak pernah melihat masalah umur, tidak membedakan masalah gender, karena pujangga adalah pujangga, memilih menyimpan hati mereka pada kertas yang hanya mampu mendengar saja. Kadang mendengar lebih baik dari pada berbicara, hingga akhirnya kertas terlupakan dan tinta terbuang sia-sia. Tapi tidakā¦tidak akan sia-sia, karena lewat untaian kata-kata, tertuang dalam kertas oleh tinta, maka terciptalah aku. Sebelah dunia menertawakan para pujangga penulisku. Aku ingin berteriak pada mereka dan bertanya kenapa? Mereka tidak berhak menertawakan pujangga, setiap aku tercipta itu disertai harapan, cinta dan bahkan terkadang ada keputusasaan dan harapan, penderitaan, tangisan dan kehancuran hati yang menciptakanku, lalu kenapa hal itu menjadi begitu lucu untuk ditertawakan? apa dunia mereka lebih baik tanpa aku? Mereka hanya lebih suka menyerahkan hati mereka pada sesama mereka yang dapat mendengar dan berbicara tapi kini aku yang akan menertawakan mereka, sebab saat mereka mendengar, maka mereka akan membicarakannya pada yang lain. Itu sifat khas manusia. Suka atau tidak.
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed