…wahai…
November 24, 2005
Wahai kekasihku yang sejati,
Kerinduan-kerinduanku akan hangatnya
peraduan cinta telah memuncak melebihi
istana para Dewa, yang membuat rakyatku
takjub kepadanya.
Wahai kekasihku yang abadi,
Gemuruh ombak pantai dan desahan ranting
pohon adalah saksi nyata atas penantianku
yang seindah musim semi atas kesucian dirimu
Wahai Kekasihku nan mewangi,
Mengapa hantu-hantu mimpi selalu membelai
tidurku yang damai hingga air selimut tidurku
basah oleh jernihnya air mataku.
Wahai kekasiku yang suci,
Aku merindukanmu di batas pesisir ini menanti
segala yang ada di dirimu menjadi milikku
dan segala yang kumiliki menjadi milikmu
dimana Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku.
Entry Filed under: Uncategorized. .
Leave a comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Subscribe to the comments via RSS Feed