Kau dan aku
Continue Reading 2 comments June 24, 2008
Untuk suami renungkanlah….
Pernikahan atau perkawinan menyingkap tabir rahasia bahwa isteri yang kamu nikahi tidak semulia Khadijah, tidak setakwa Aisyah , dan juga tidak setabah Fatimah. Justru isterimu hanyalah wanita akhir zaman yang punya cita-cita menjadi solehah.
Pernikahan atau perkawinan mengajarkan kita kewajiban bersama.
Isteri menjadi tanah, kamu adalah langit penaungnya.
Isteri ladang tanaman, kamu adalah pemagarnya.
Isteri seumpama ternak, kamu adalah gembalanya.
Isteri adalah murid, kamu adalah mursyidnya.
Isteri bagaikan anak kecil, kamu adalah tempat bermanjanya.
Saat isteri menjadi madu, kamu teguklah sepuasnya.
Ketika isteri menjadi racun, kamulah penawar racunnya.
Seandainya isteri tulang yang bengkok, berhati-hatilah meluruskannya.
Pernikahan atau perkawinan mengingatkan kita perlunya iman dan taqwa.
Untuk belajar meniti sabar dan mengharap ridhlo Allah SWT. Karena memiliki isteri yang tak hebat lah yang akan membuat kamu tersentak dari alpa. Kamu bukanlah Rasulullah SAW !!!..
Dan juga bukanlah Ali bin Abi Thalib.
Kamu hanyalah suami akhir zaman yang berusaha menjadi soleh… !!!!.
Untuk isteri renungkanlah. ..
Pernikahan atau perkawinan membuka tabir rahasia bahwa suami yang menikahi kamu tidaklah semulia Muhammad SAW !!!..
Tidaklah setakwa Ibrahim, dan juga tidak setabah Ayyub atau pun Segagah Musa.. apalagi setampan Yusuf.
Justru suamimu hanyalah lelaki akhir zaman yang punya cita cita membangun keturunan yang soleh.
Pernikahan atau perkawinan mengajar kita kewajiban bersama.
Suami menjadi pelindung, kamu adalah penghuninya.
Suami adalah nahkoda kapal, kamu penumpangnya.
Suami bagaikan aktor yang nakal, kamu adalah penonton kenakalannya.
Saat suami menjadi raja, kamu lah yang menikmati anggur singgasananya.
Seketika suami menjadi racun, kamulah penawar obatnya.
Seandainya suamimu bengis lagi lancang, sabarlah memperingatkannya.
Pernikahan ataupun perkawinan mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa. Untuk belajar meniti sabar dan ridhlo Allah SWT. Karena memiliki suami yang tak gagah, justru akan membuat kamu tersentak dari alpa.
Kamu bukanlah Khadijah yang begitu sempurna di dalam menjaga, dan juga bukanlah Hajar yang begitu setia dalam sengsara.
Kamu cuma wanita akhir zaman yang berusaha menjadi solehah.
Justru itu wahai para suami dan isteri. Janganlah menuntut terlalu tinggi. Mengapa mendambakan isteri sehebat Khadijah, andai diri tidak semulia Rasulullah ?? Mengapa mengharapkan suami setampan Yusuf, seandainya kasih tak setulus Zulaikha ???.
Tidak perlu mencari isteri secantik Balqis, andai diri tidak sehebat Sulaiman.
DAN tidak perlu mencari suami seteguh Ibrahim, andai diri tidak sekuat Hajar.
Mari bersama-sama kita renungkan…
2 comments June 8, 2007
Beberapa hari lalu adalah hari valentine, semua orang sibuk mencari cintanya masing-masing. Cinta memang menjadi dorongan manusia yang paling kuat, dibandingkan dengan dorongan uang (nafsu belanja), dan dorongan untuk menaklukkan (haus kekuasaan).
Kalau nafsu belanja tidak bisa dikendalikan, bahkan oleh inflasi, kenaikan harga BBM, apalagi dengan dukungan kartu kredit, wah sungguh tak terkalahkan. Nafsu belanja hanya bisa dikalahkan oleh debt collector…hehehehe.
Lalu bagaimana dengan dorongan cinta?
Sesungguhnya hidup kita ini banyak mengalami kesia-siaan, banyak energi,
pikiran, perasaan, imajinasi terbuang percuma hanya gara-gara CINTA.
Namun kita tak pernah jera, seolah-olah hidup ini terasa hampa tanpa cinta. Bagi yang memiliki logika kuat, atau perasaannya bebal, sedikit beruntung, namun bagi pecinta seni, penyanyi, penulis lagu, wahhhh siksaan asmara ini tak pernah kunjung selesai.
Lalu bagaimana caranya membuat dorongan cinta ini tak terbuang sia-sia ?
Pertama,
kita harus mengerti, mengapa Sang Pencipta membuat Cinta dalam hidup
kita, untuk apa? Nafsu cinta, baik itu cinta murni, maupun cinta dibawah pusar, adalah ditujukan sebagai dorongan kasih. Dorongan kasih ini maksudnya adalah supaya Manusia mengenal belas kasih, bahasa inggrisnya welas kasih, rasa kasihan.
Cinta itu memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah sisi nafsu ego, ini arti
cinta adalah memiliki, menguasai, mencengkeram, memagutnya. Cinta ini
memiliki sisi baik dan sisi buruk, namun efek sampingnya adalah putus
cinta patah hati, merana. Sisi Cinta yang kedua adalah kasih. Artinya, menjadi salah satu alternatif pilihan respon perasaan kita terhadap dunia, yaitu: benci, malu, dendam, rasa bersalah, dan yang terakhir… cinta.
Seharusnya, bila seseorang memiliki hati nurani yang kuat, maka sisi Cinta yang menonjol adalah rasa belas kasih… compassion. Ada 3 hal yang terpenting dalam hidup, yaitu: rasa belas kasih, bersikap moderat, dan tahu posisi kita berada dimana.
Rasa cinta yang merupakan welas asih, rasa kasihan itulah yang diharapkan menjadi pedoman manusia, menjadi titik awal kita mengerti kehidupan. Bila kita terus menerus mempertajam rasa belas kasih, maka kita akan memiliki empati, inilah bibit hati nurani kita.
Bila rasa empati yang kita miliki cukup tajam, cukup dalam, maka kita akan mengenal jiwa kita, sisi baik absolut dalam diri kita, maka jiwa kita akan menjadi pembimbing, penguat, energi tak pernah habis, tenaga dorongan sekaliber tenaga Nuklir yang mampu mengalahkan dunia.
Bila anda ingin merubah dunia, anda tidak perlu energi banyak-banyak, atau
manusia sebanyak mungkin, cukup satu saja jiwa yang berkembang, maka
dunia akan berubah. Itulah yang dilakukan oleh para tokoh pendahulu kita, Mahatma Gandhi, Mother Theresa, dll.
Add comment February 18, 2007